Minggu, 29 Juli 2012

Makalah Islam di Turki

Diposting oleh Unknown di 05.43

Kata Pengantar
Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan perkenan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tugas Sejarah Islam mengenai Islam di Negara Turki  ini untuk menjadi bahasan pelajaran bersama bagi semua orang, khususnya mahasiswa Sejarah Universitas Sriwijaya Tahun Akademik 2011/2012.

Lanjut yakk...
Makalah ini disusun untuk menberikan pedoman dan bahan dalam diskusi yang dilakukan mahasiswa. Juga sebagai bahan referensi untuk materi serupa yang sedang dipelajari.
Penyajian makalah ini disampaikan dalam tampilan yang ringkas dan mudah dipahami dengan pokok-pokok permasalahan yang jelas.
Kami berharap makalah ini dapat memberikan bantuan yang berarti dapat proses belajar saudara-saudara sekalian. Kami juga menyadari makalah ini banyak sekali kekurangannya. Oleh karena itu kami memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Inderalaya, April 2012
Penyusun














Daftar Isi                             
1.      Kata Pengantar…………………………………………………………………………….1
2.      Daftar Isi………………………….……………………………………………………….2
3.      BAB I………………………………………………………………………….…...……..3
PENDAHULUAN…………………………………………………………………….….3
1)      Latar Belakang……………………………………………...…………………..…3
2)      Rumusan Masalah……………………………………………………....................3
4.      BAB II………………………………………………………………………………….….4
PEMBAHASAN………………………………………………………………………......4
PERKEMBANGAN ISLAM DI TURKI…………………………………………………4
1)      TURKI PADA AWAL ISLAM……………………………………………………….4
A.     Proses Masuknya Islam ke Turki…………………………………………………4
B.     Perkembangan dan Pemerintahan Islam di Turki…………………………………5
a.       Latar Belakang Pendirian Turki Utsmani…………………………………5
b.      Pertumbuhan Kerajaan Turki Utsmani……….………………………...…6
c.       Kemunduran Kerajaan Turki Utsmani…………………………….…..…11
2)      TUKRI PASCA PEMBARUAN…………………………………………………….12
A.    PEMBARUAN DI TUKRI……………………………………………………...12
B.     SULTAN MAHMUD II…………………………………………………………13
C.     TANZIMAT………………………………………………………………..……15
D.    USMANI MUDA………………………………………………………….……16
E.     TURKI MUDA…………………………………………………………….……17
  3)   ISLAM di MASA SEKARANG…………………………………….......................17
5.      BAB III…………………………………………………………………………….……20
PENUTUP………………………………………………………………………….……20
KESIMPULAN…………………………………………………………..........................20
6.      Daftar Pustaka…………………………………………………………………………....21




BAB I
PENDAHULUAN
1)      Latar Belakang
Pada abad pertengahan Dunia Barat telah maju, ditandai dengan beberapa kemajuan dan penemuan teknologi modern. Islam sudah masuk ke daerah Turki mulai abad Hijriyah dan Islam berkembang dengan pesat , bangsa Turki mencapai puncak kemegahan dari tahun 1520-1566 kemudian mendapat gelar orang sakit (The Sick Men) karena bangsa Turki akhirnya juga lumpuh pada abad ke-19.
Pembaharuan di Turki ini, meliputi empat fase pembaharuan yang dimulai oleh Sultan Mahmud II, yang mengubah madrasah tradisional tanpa pengetahuan umum menjadi madrasah yang berpengetahuan umum. Tanzimat yaitu usaha untuk mengatur dan memperbaiki struktur organisasi pemerintahan sementara Usmani Muda dan Turki Muda ingin mengubah sistem pemerintahan konstitusional bukan dengan kekuasaan absolut.
2)      Rumusan Masalah
A.    Bagaimana kondisi Islam di Turki pada awal masuknya Islam ke Tanah Turki?
B.     Bagaimana peran atau tokoh-tokoh Islam pada masa Turki Ustmani untuk perkembangan Islam itu sendiri?
C.     Pengaruh Islam apa saja yang ada di Turki?
D.    Pembaruan-pembaruan apa saja yang dilakukan pemimpin-pemimpin Turki untuk membangkinkan kembali Turki yang pernah jatuh pada abad ke-19?
E.     Bagaimanakah perkembangan Islam di Turki dari masa ke masa setelah sering mengalami tokoh yang memerintah?








BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN ISLAM DI TURKI
1)TURKI PADA AWAL ISLAM
A. Proses Masuknya Islam ke Turki
Istambul adalah ibukota kerajaan Turki Usmani. Kota ini sebelumnya merupakan ibukota kerajaan Romawi Timur yang bernama Konstantinopel. Sultan Turki Usmani berhasil menaklukkannya tahun 1453 dan menjadikannya sebagai ibukota kerajaan yang baru.
Sebenarnya, jauh sebelum Turki Usmani dibawah Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel, para pemimpin Islam sudah sejak zaman Khulafaur Rasyidin, kemudian khalifah Bani Umayyah dan Khalifah Bani Abbas berusaha ke arah itu. Namun, baru pada masa kerajaan Turki Usmani usaha itu berhasil.
Setelah Muhammad Al-Fatih menjadikan Istambul sebagai ibukota kerajaan Turki Usmani, ia melakukan penataan hal-ihwal orang-orang Kristen Yunani (Romawi). Dalam penataan tersebut ia tetap memberikan kebebasan kepada pihak gereja, seperti yang dilakukan para pendahulunya dan mengikuti agama lain sesuai dengan ajaran agama Islam yang menghormati keyakinan suatu agama. Berkenaan dengan kekuasaan keagamaan orang Kristen Yunani, ia bahkan menyerahkan pelaksanaannya kepada penguasa keagamaan mereka. Hal yang sama juga berlaku bagi penganut agama Yahudi. Setiap agama mempunyai komunitasnya sendiri yang disebut dengan millet. Sultan memberi kebebasan kepada penganut agama Kristen, misalnya, untuk memilih dan menentukan patriarch. Bilamana seorang patriarch sudah terpilih, ia kemudian melantiknya dan memberikan tongkat serta memasukkan cincin kepatriachan kepada patriarch terpilih itu. Itu tidak pernah terjadi pada masa raja-raja Kristen sendiri sebelumnya. Penduduk Istambul memang heterogen dalam bidang agama. Menurut sensus tahun 1477, penduduk Istambul berdasarkan agama adalah sebagai berikut : Muslim 8951 rumah tangga (60%), penganut Kristen Ortodoks (Yunani) 3151 rumah tangga (21,5 %), Yahudi 1647 rumah tangga (11%), dan lain-lain 1054 rumah tangga (7,5%).
Sebagaimana halnya dengan Konstantinopel pada masa kerajaan Romawi Timur, kerajaan Turki Usmani dengan ibukota Istambul itu, juga menjadi sebuah Negara adi daya pada masa jayanya. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Bahkan, Negara-negara Islam di daerah yang lebih jauh juga mengakui kekuasaannya. Sebagai sebuah kerajaan Islam terbesar pada waktu itu, maka raja-rajanya juga memakai gelar khalifah. Istana khalifah terletak di kota ini.
Sejak pertama kali mereka masuk Islam, bangsa Arab sudah menjadi guru mereka dalam bidang agama, ilmu, prinsip-prinsip kemasyarakatan, dan hukum. Huruf Arab dijadikan huruf resmi kerajaan. Kekuasaan tertinggi memang berada di tangan Sultan, tetapi roda pemerintahan dijalankan oleh Shadr Al-a’zam (Perdana Menteri) yang berkedudukan di ibu kota. Jabatan-jabatan penting, termasuk perdana menteri, seringkali justru diserahkan kepada orang-orang asal Eropa dengan syarat menyatakan diri secara formal masuk Islam.
Dalam bidang arsitektur, masjid-masjid yang dibangun disana membuktikan kemajuannya. Masjid memang merupakan suatu ciri dari sebuah kota Islam, tempat kaum muslimin mendapat fasilitas lengkap untuk menjalankan kewajiban agamanya. Gereja Aya Sophia, setelah penaklukan diubah menjadi sebuah mesjid agung yang terpenting di Istambul. Gambar-gambar makhluk hidup yang ada sebelumnya ditutup, mihrab didirikan, dindingnya dihiasi dengan kaligrafi yang indah, dan menara-menara dibangun. Masjid-masjid penting lainnya adalah Masjid Agung Al-Muhammadi atau Masjid Agung Sultan Muhammad Al-Fatih, Masjid Abu Ayyub Al-Anshari (tempat pelantikan para sultan Usmani), Masjid Bayazid dengan gaya Persia, dan Masjid Sulaiman Al-Qanuni.
Disamping masjid, para sultan juga membangun istana-istana dan villa-villa yang megah, sekolah, asrama, rumah sakit, panti asuhan, penginapan, pemandian umum, pusat-pusat tarekat, dan sebagainya. Rumah-rumah dan villa mewah juga dimiliki oleh pedagang-pedagang kaya, istana dan villa biasanya dilengkapi dengan taman dan tembok di sekelilingnya. Jalan-jalan yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lain, terutama dengan ibukota yang dibangun.

B. Perkembangan dan Pemerintahan Islam di Turki
Perkembangan dan pemerintahan Islam di Turki sebenarnya tidak lepas dari peranan kerajaan turki Usmani yang berada dibawah dinasti Utsmaniyyah atau pemerintahan Utsman. Oleh karena itu pada bab ini akan membahas seluk beluk kerajaan turki Usmani yang termasuk pada tiga kerajaan besar Islam serta perkembangannya. Adapaun pemaparannya sebagai berikut :
a. Latar Belakang Pendirian Turki Utsmani
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Qayigh Ughuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina (Tiongkok) yang dipimpin oleh Sulaiman Syah. Mereka meninggalkan tanah tempat kediaman mereka yang asal, berpindah ke Turkistan. Dari Turkistan mereka berpindah-pindah seperti ke Persia dan Irak. Kepindahan mereka disebabkan serangan bangsa Mongol yang telah lama berkuasa di Asia tengah dan Asia Barat di bawah pimpinan rajanya yang masyhur bernama Jengis Khan.
Bangsa Turki berlarut-larut mengembara hingga mereka ke tepi sungai efrat. Ketika menyebrangi sungai Efrat, pemimpin mereka bernama Sulaiman hanyut terbawa deras air sungai Efrat hingga meninggal dunia disebabkan karena banjir banding (1228 M).
Kecelakaan di sungai Efrat membuat suku Qayigh Ughuz yang dipimpin oleh Sulaiman Syah terpecah menjadi dua. Sebagian kembali ke daerah asalnya dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan. Kelompok yang melanjutkan perjalanan di pimpin oleh anaknya Sulaiman Syah yaitu Erthogrol hingga mereka pun sampai di Asia Kecil. Dalam perjalanannya di dekat Negara Angora, mereka menjumpai dua pasukan tentara yang sedang berperang. Dua pasukan yang sedang berperang itu adalah bangsa Mongol dan Turki Saljuk. Rombongan di bawah pimpinan Erthogrol tersebut turut berperang membantu pasukan yang lemah, yaitu Turki Saljuk. Pimpinan Turki Saljuk waktu itu bernama Alaudin Sultan Bani Saljuk. Berkat bantuan itu, Turki Saljuk dapat memenangkan peperangan melawan tentara bangsa Mongol.
Setelah Bani Saljuk memperoleh kemenangan, lalu Alaudin memberikan hadiah sebagai balas jasa kepada pasukan atau rombongan Erthogrol. Hadiah yang diberikan oleh Alaudin adalah suatu daerah di bagian Iskisyhar, dibatas kerajaan Byzantium dekat Brussa. Di daerah itulah bermula tumbuh suburnya kerajaan Turki Usmani.
b. Pertumbuhan Kerajaan Turki Utsmani
1. Perluasan Wilayah
Erthogrol adalah pemimpin Turki Usmani yang telah mendapat suatu daerah di bagian Iskisyhar. Daerah ini mereka jadikan ibukota kerajaan untuk mengembangkan perjuangan umat Islam, khususnya di Turki Usmani.
Setelah Erthogrol meninggal dunia pada tahun 1289 M, kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya bernama Usman. Putra Erthogrol inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun 1290 M-1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alaudin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa.
Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk sehingga Alauddin terbunuh. Kerajaan Saljuk ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah kerajaan Usman dinyatakan berdiri. Pengurus pertamanya adalah Usman yang sering juga disebut Usman I
Setelah Usman I menyatakan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (Raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai kota kerajaan.

2. Kemajuan yang dicapai pada Masa Turki Usmani di Bidang Agama
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Karena itu, ulama mempunyai tempat tersendiri dan berperan besar dalam kerajaan dan masyarakat. Dalam kajian-kajian keagamaan seperti fikih, ilmu kalam, tafsir dan hadits bisa dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu paham ( Madzhab) keagamaan dan menekan madzhab lainnya, seperti yang dilakukan Sultan Abdil al-Hamid II, ia begitu fanatik terhadap aliran Asy'ariyah. Untuk itu ia memerintah Syekh Husein al-Jisri menulis kitab Al-Husnu al-Hamidiyyah untuk melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat lainnya adalah ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya suka menulis dalam bentuk sarah (penjelasan) terhadap karya-karya klasik.

3. Masa Kesultanan
a. Sultan Ustman bin Urtoghal (699-726 H/ 1294-1326 M)
Pada tahun 699 H usman melakukan perlusan kekuasaannya sampai ke Romawi Bizantium setelah ia mengalahkan Alauddin Saljuk. Usman diberi gelar sebagai Padisyah Al-Usman (Raja besar keluarga usman), gelar inilah yang dijuliki sebagi Daulah Usmaniyyah. Usman berusaha memperkuat tentara dan memajukan negrinya. kepada raja-raja kecil dibuat suatu peraturan untuk memilih salah satu dari tiga hal, yaitu:
1) Masuk Islam
2) Membayar Jizyah; atau
3) Berperang
Penerapan sistem ini membawa hasil yang menggembirakan, yaitu banyak raja-raja kecil yang tunduk kepada Usman.
b. Sultan Urkhan bin Utsman (726-761 H/ 1326-1359 M)
Sultan Urkhan adalah putera Utsman I. sebelum urkhan ditetapkan menjadi raja, ia telah banyak membantu perjuangan ayahnya. Dia telah menjadikan Brousse sebagai ibu kota kerajaannya.
Pada masa pemerintahannya, dia berhsil mengalahkan dan menguasai sejumlah kota di selat Dardanil. Tentara baru yang dibentuk oleh Urkhan I diberi nama Inkisyaiah. Pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan dan pakaian seragam. Di zaman inilah pertama kali dipergunakan senjata meriam.          
c. Sultan Murad I bin Urkhan (761-791 H/ 1359-1389 M)
Pengganti sultan Urkhan adalah Sultan Murad I. selain memantapkan keamanan di dalam negrinya, sultan juga meneruskan perjuangan dan menaklukkan bebrapa daerah ke benua Eropa. Ia menaklukkan Adrianopel, yang kemudian dijadikan sebagai ibukota kerajaan yang baru serta membentuk pasukan berkuda (Kaveleri). Perjuangannya terus dilanjutkan dengan menaklukkan Macedonia, Shopia ibukota Bulgaria, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani.
Karena banyaknya kota-kota yang ditaklukkan oleh Murad I, pada waktu itu bangsa Eropa mulai cemas. Akhirnya raja-raja Kristen Balkan meminta bantuan Paus Urban II untuk mengusir kaum muslimin dari daratan Eropa. Maka peperangan antara pasukan Islam dan Kristen Eropa pada tahun 765 H (1362 M). Peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Murad I, sehingga Balkan jatuh ke tangan umat Islam. Selanjutnya pasukan Murad I merayap terus menguasai Eropa Timur seperti Somakov, Sopia Monatsir, dan Saloniki.
d. Sultan Bayazid I bin Murad ( 791-805 H/ 1389-1403 M)
Bayazid adalah putra Murad I. Ia meneruskan perjuangan ayahnya dengan memperluas wilayahnya seperti Eiden, Sharukan, dan Mutasya di Asia Kecil dan Negri-negri bekas kekuasaan Bani saluki. Bayazid sangat besar pengaruhnya, sehingga mencemaskan Paus. Kemudian Paus Bonifacius mengadakan penyerangan terhadap pasukan Bayazid, dan peperangan inilah yang merupakan cikal bakal terjadinya Perang Salib.
Tentara Salib ketika itu terdiri dari berbagai bangsa, namun dapat dilumpuhkan oleh pasukan Bayazid. Namun pada peperangan berikutnya ketika melawan Timur Lenk di Ankara, Bayazid dapat ditaklukkan, sehingga mengalami kekalahan dan ketika itu Bayazid bersama putranya Musa tertawan dan wafat dalam tahanan Timur Lenk pada tahun 1403 M.
Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani, sehingga penguasa-penguasa Saljuk di Asia Kecil satu persatu melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Hal ini berlangsung sampai pengganti Bayazid muncul.
e. Sultan Muhammad I bin Bayazid (816-824 H/ 1403-1421 M)
 Kekalahan Bayazid membawa akibat buruk terhadap penguasa-penguasa Islam yang semula berada di bawah kekuasaan Turki Usmani, sebab satu sama lain berebutan, seperti wilayah Serbia, dan Bulgeria melepaskan diri dari Turki Usmani. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I putra Bayazid dapat mengatasinya. Sultan Muhammad I berusaha keras menyatukan kembali negaranya yang telah bercerai berai itu kepada keadaan semula.
Berkat usahanya yang tidak mengenal lelah, Sultan Muhammad I dapat mengangkat citra Turki Usmani sehingga dapat bangkit kembali, yaitu dengan menyusun pemerintahan, memperkuat tentara dan memperbaiki kehidupan masyarakat. Akan tetapi saat rakyat sedang m,engharapkan kepemimpinannya yang penuh kebijaksaan itu, pada tahun 824 H (1421 M) Sultan Muhammad I meninggal.
f. Sultan Murad II bin Muhammad ( 824-855 H/ 1421-1451 M)
Cita-citanya adalah melanjutkan usaha perjuangan Muhammad I. Perjuangan yang dilaksanakannya adalah untuk menguasai kembali daerah-daerah yang terlepas dari kerajaan Turki Usmani sebelumnya. Daerah pertama yang dikuasainya adalah Asia Kecil, Salonika Albania, Falokh, dan Hongaria.
Setelah bertambahnya beberapa daerah yang dapat dikuasai tentara Islam, Paus Egenius VI kembali menyerukan Perang Salib. Tentara Sultan Murad II menderita kekalahan dalam perang salib itu. Akan tetapi dengan bantuan putranya yang bernama Muhammad, perjuangan Murad II dapat dilanjutkan kenbali yang pada akhirnya Murad II kembali berjaya dan keadaan menjadi normal kembali sampai akhir kekuasaan diserahkan kepada putranya bernama Sultan Muhammad Al-Fatih.
g. Sultan Muhammad Al-Fatih (855-886 H/ 1451-1481 M)
Setelah Sultan Murad II meninggal dunia, pemerintahan kerajaan Turki Usmani dipimpin oleh putranya Muhammad II atau Muhammad Al-Fatih. Ia diberi gelar Al-fatih karena dapat menaklukkan Konstantinopel. Muhammad Al-Fatih berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapat menaklukkan Konstantinopel sebagai ibukota Bizantium. Konstantinopel adalah kota yang sangat penting dan belum pernah dikuasai raja-raja Islam sebelumnya.
Seperti halnya raja-raja dinasti Turki Usmani sebelumnya, Muhammad Al-Fatih dianggap sebagi pembuka pintu bagi perubahan dan perkembangan Islam yang dipimpin Muhammad.Tiga alasan Muhammad menaklukkan Konstantinopel, yaitu:
a.       Dorongan iman kepada Allah SWT, dan semangat perjuangan berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan ajaran Islam.
b.      Kota Konstantinopel sebagai pusat kemegahan bangsa Romawi.
c.       Negrinya sangat indah dan letaknya strategis untuk dijadikan pusat kerajaan atau perjuangan.
Usaha mula-mula umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan cara mendirikan benteng besar dipinggir Bosporus yang berhadapan dengan benteng yang didirikan Bayazid. Benteng Bosporus ini dikenal dengan nama Rumli Haisar (Benteng Rum).
Benteng yang didirikan umat Islam pada zaman Muhammad Al-Fatih itu dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, dilakukan pengepungan selama 9 bulan. Akhirnya kota Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam ( 29 Mei 1453 M) dan Kaitsar Bizantium tewas bersama tentara Romawi Timur. Setelah memasuki Konstantinopel disana terdapat sebuah gereja Aya Sofia yang kemudian dijadikan mesjid bagi umat Islam.
Setelah kota Konstantinopel dapat ditaklukkan, akhirnya kota itupun dijadikan sebagai ibukota kerajaan Turki Usmani dan namanya diganti menjadi Istanbul. Jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan umat Islam, berturut-turut pula dapat dikuasai negri sekitarnya seperti Servia, Athena, Mora, Bosnia, dan Italia. Setelah pemerintahan Sultan Muhammad, berturut-turut kerajaan Islam dipimpin oleh beberapa Sultan, yaitu:
(1). Sultan Bayazid II (1481-1512 M) (2). Sultan Salim I (918-926 H/ 1512-1520 M) (3). Sultan Sulaiman (926-974 H/ 1520-1566 M) (4). Sultan Salim II (974-1171 H/ 1566-1573 M) (5). Sultan Murad III ( 1573-1596 M)
Setelah pemerintahan Sultan Murad III, dilanjutkan oleh 20 orang Sultan Turki Usmani sampai berdirinya Republik Islam Turki. Akan tetapi kekuasaan sultan-sultan tersebut tidak sebesar kerajaan-kerajaan sultan-sultan sebelumnya. Para sultan itu lebih suka bersenang-senang., sehingga melupakan kepentingan perjuangan umat Islam. Akibatnya, dinasti turki Usmani dapat diserang oleh tentara Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Rusia. Sehingga kekuasaan Turki Usmani semakin lemah dan berkurang karena beberapa negri kekuasaannya memisahkan diri,diantaranya adalah:
1.      Rumania melepaskan diri dari Turki Usmani pada bulan Maret 1877 M.
2.      Inggris diizinkan menduduki Siprus bulan April 1878 M.
3.      Bezarabia, Karus, Ardhan, dan Bathum dikuasai Rusia.
4.      Katur kemudian menjadi daerah kekuasaan Persia.

c. Kemunduran Kerajaan Turki Utsmani
Kemunduran dan kehancuran kerajaan Turki Usmani berawal sejak wafatnya Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1566 M). Sementara pengganti-penggantinya seperti Salim II (1566-1573 M), Sultan Murad III (1574-1595 M), Sultan Muhammad III (1595-1603 M), Sultan Ahmad I (1603-1617 M), Mustafa I (1617-1618 M), dan seterusnya ternyata kurang mampu mempertahankan kejayaan yang pernah dicapai kerajaan Turki Usmani pada masa-masa sebelumnya.
Faktor yang menyebabkan kemunduran kerajaan Turki Usmani adalah sebagai berikut :
1.      Karena amat luasnya kekuasaan Turki Usmani, administrasi pemerintahannya amat rumit dan komplek. Sementara dilain pihak memang pengaturannya tidak ditunjang dengan sumber daya yang berkualitas, malahan keinginannya terus memperluas daerahnya dengan peperangan terus menerus sehingga banyak mengorbankan tenaga dan waktu bukan dipakai untuk membangun negara.
2.      Beragamnya penduduk, baik ditinjau dari suku, budaya, bahkan perbedaan agama menyebabkan pengaturannya pun beragam pula.
3.      Karena lemahnya para penguasa sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni akibat dari kepemimpinan para sultan yang lemah sehingga membuat Negara hancur dan melemah.
4.      Maraknya budaya 'pungli' dikalangan para pejabat yang ingin naik jabatan-jabatan penting, sehingga pudarlah moral para penguasa Turki.
5.      Akibat pemberontakan tentara Jenissari yang semula pendukung kekuatan Turki Usmani, sekarang menjadi terbalik menyerang Turki Usmani.
6.      Merosotnya perekonomian karena banyaknya peperangan.
7.      Akibat terhentinya kegiatan ilmu pengetahuan.

2)TUKRI PASCA PEMBARUAN
A.    PEMBARUAN DI TUKRI
Tahun 1037 Turki dapat menguasai kekhalifahan Abassiyah, akan tetapi akhirnya lumpuh oleh bangsa Mongol, kecuali bangsa Turki yang dipimpin oleh Ertughril yang selanjutnya menjelma menjadi Turki Usmani yang puncak kemegahannya dari tahun 1520-1566 dibawah pemerintahan Sulaiman I, namun akhirnya juga lumpuh pada abad ke-19 dan mendapat sebutan orang sakit (The Sick Men).
Meskipun Turki mendapat gelar (sebutan) The Sick Men, tetapi sebenarnya berkat ketekunan para penbaharu dan para tokoh-tokoh negara itu dapatlah bangkit kembali dengan mengadakan beberapa fase modernisasi :
a. Usaha Rasyid Pasya (1839), yaitu sentralisasi pemerintahan dan modernisasi angkatan bersenjata.
b. Usaha dari Fuad, Namik, Ali Pasya dan Midat Pasya (1861-1876) terutama bidang pendidikan, Bank Nasional, hukum dan Perundang-undangan.
 c. Usaha Turki Muda (1896-1918) yang berusaha dan bertujuan :
1. Reorganisasi negara secara modern
2. Nasionalisme Turki
3. Kesatuan bangsa, negara dan bahasa.
d. Usaha Kemal Pasya :
1. Ke dalam ialah menetapkan Undang-Undang Dasar (1942) pelajaran membaca dan menulis latin, keharusan nama keluarga, perkawinan, emansipasi wanita dan rencana industri besar-besaran.
2. Ke luar, ialah perjanjian nonagressi dengan Irak, Iran, Afghanistan, dan lain-lain dalam perdamaian.[2]

B.     SULTAN MAHMUD II
Sultan-sultan sebelumnya menganggap diri mereka tinggi dan tidak pantas bergaul dengan rakyat. Oleh karena itu, mereka selalu mengasingkan diri dan meyerakan soal mengurus rakyat kepada bawahan-bawahan. Timbullah anggapan mereka bukan manusia biasa dan pembesar-pembesar Negara pun tidak berani duduk ketika menghadap Sultan. Tradisi aristokrasi ini dilanggar oleh Mahmud II. Ia mengambil sikap demokratis dan selalu muncul di muka umum untuk berbicara atau menggunting pita pada upacara-upacara resmi.
Sultan Mahmud II juga mengadakan perubahan dalam organisasi pemerintahan Kerajaan Usmani. Menurut tradisi Kerajaan Usmani dikepalai oleh seorang Sultan yang mempunyai kekuasaan duniawi dan kekuasaan rohani. Sebagai penguasa duniawi ia memakai titel Sultan dan sebagai kepala rohani umat Islam ia memakai gelar Khalifah. Dengan demikian, raja Usmani mempunyai dua bentuk kekuasaan, kekuasaan memerintah Negara dan kekuasaan menyiarkan dan membela Islam.
 Perubahan penting yang diadakan oleh Sultan Mahmud II dan yang kemudian mempunyai pengaruh besar pada perkembangan pembaharuan di Kerajaan Usmani ialah perubahan dalam bidang pendidikan. Seperti halnya di Dunia Islam lain di zaman itu, Madrasah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan umum yang ada di Kerajaan Usmani. Di Madrasah hanya diajarkan agama sedangkan pengetahuan umum tidak diajarkan. Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan Madrasah tradisional tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad ke-19.
Selain itu, Sultan Mahmud II juga mendirikan Sekolah Militer, Sekolah Teknik, Sekolah Kedokteran dan Sekolah Pembedahan. Lulusan Madrasah banyak meneruskan pelajaran di sekolah-sekolah yang baru didirikannya. Selain dari mendirikan Sekolah Sultan Mahmud II juga mengirim siswa-siswa ke Eropa yang setelah kembali ke tanah air juga mempunyai pengaruh dalam penyebaran ide-ide baru di Kerajaan Usmani.
Pembaharuanyang diadakan Sultan Mahmud II diataslah yang menjadi dasar bagi pemikiran dan usaha pembaharuan selanjutnya di Kerajaan Usmani abad ke-19 dan Turki abad ke-20.
C.    TANZIMAT
Pembaharuan diadakan pada masa tanzimat merupakan sebagai lanjutan dari usaha-usaha yang dijalankan oleh Sultan Mahmud II yang banyak mengadakan pembaharuan peraturan dan perundang-undangan. Secara terminologi tanzimat adalah suatu usaha pembaharuan yang mengatur dan menyusu serta memperbaiki struktur organisasi pemerintahan, sosial, ekonomi dan kebudayaan, antara tahun 1839-1871 M.
Tokoh-tokoh penting tanzimat antara lain : Mustafa Rasyid Pasya, Mustafa Sami, Mehmed Sadek Rif’at Pasya dan Ali Pasya seperti yang dijelaskan berikut ini :
a.      MUSTAFA RASYID PASYA (1880-1858)
Usaha pembaharuannya yang terpenting ialah sentralisasi pemerintahan dan modernisasi angkatan bersenjata pada tahun 1839.
b.      MUSTAFA SAMI PASYA (WAFAT 1855)
Menurut pendapat Mustafa Sami Pasya, kemajuan bangsa Eropa terletak pada keunggulan mereka dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab lain dilihatnya karena toleransi beragama dan kemampuan orang Eropa melepaskan diri dari ikatan-ikatan agama, disamping itu pula pendidikan universal bagi pria dan wanita sehingga umumnya orang Eropa pandai membaca dan menulis.
c.       MEHMED SADIK RIF’AT PASYA
Pokok-pokok pemikiran dan pembaharuannya ialah Sultan dan pembesar-pembesar negara harus tunduk pada undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya. Negara harus tunduk pada hukum(negara hukum), kodifikasi hukum, administrasi, pengaturan hak dan kewajiban rakyat, reorganisasi, angkatan bersenjata, pendidikan dan keterampilan serta dibangunnya Bank Islam Usmani pada tahun 1840.
Ide-ide yang dicetuskan Sadik Rif’at pada zaman itu merupakan hal baru karena orang tidak mengenal peraturan, hukum, hak dan kebebasan. Pada waktu itu petani lebih banyak menjadi budak bagi tuan tanah dan rakyat budak bagi Sultan. Pemikiran ini sejalan dengan pemikiran Mustafa Rasyid Pasya yang pada waktu itu mempunyai kedudukan sebagai Menteri Luar Negeri.
d.      ALI PASYA (1815-1871)
Usaha pembaharuannya antara lain : tentang pengakuan semua aliran spiritual pada masa itu, jaminan melaksanakan ibadahnya masing-masing, larangan memfitnah karena agama, suku dan bahasa, jaminan kesempatan belajar, sistem peradilan dan lain-lainnya.
Pembaharuan yang dilaksanakan oleh tokoh-tokoh pembaharuan di zaman tanzimat tidaklah seluruhnya mendapat dukungan bahkan mendapat kritikan baik dari dalam atau di luar Kerajaan Usmani karena gerakan-gerakan tanzimat untuk mewujudkan pembaharuan didasari oleh pemikiran liberalisme Barat dan meninggalkan pola dasar syariat agama, hal ini salah satu sebab yang utama sehingga gerakan tannzimat mengalami kegagalan dalam usaha pembaharuannya.

D.    USMANI MUDA
Sebagaimana dikatakan bahwa pembaharuan yang diusahakan dalam tanzimat belumlah mendapat hasil sebagaimana yang diharapkan. Kegagalan oleh tanzimat dalam mengganti konstitusi yang absolut merupakan cambuk untuk usaha-usaha selanjutnya. Untuk mengubah kekuasaan yang absolut maka timbullah usaha atau gerakan dari kaum cendikiawan melanjutkan usaha-usaha tanzimat. Gerakan ini dikenal dengan Young Ottoman-Yeni Usmanilar (Gerakan Usmani Muda) yang didirikan pada tahun 1865.
Beberapa tokoh dari gerakan itu membawa angin baru tentang demokrasi dan konstitusional pemerintahan yang menjunjung tinggi kekuasaan rakyat bukan kekuasaan absolut. Diantara tokoh itu ialah : Zia Pasya, Nanik Kemal, dan Midhat Pasya.
a.      ZIA PASYA
Usaha-usaha pembaharuannya antara lain, kerajaan Usmani menurut pendapatnya harus dengan sistem pemerintahan konstitusional, tidak dengan kekuasaan absolut. Menurutnya negara Eropa maju disebabkan tidak terdapat lagi pemerintahan yang absolut, semuanya dengan sistem pemerintahan konstitusional. Dalam sistem pemerintahan konstitusional harus ada Dewan Perwakilan Rakyat. Kemudian Zia mengemukakan hadis ”Perbedaan pendapat dikalangan umatku merupakan rahmat dari Tuhan”, sebagai alasan untuk perlu adanya Dewan Perwakilan Rakyat, dimana perbedaan pendapat itu ditampung dan kritik terhadap pemerintah dikemukakan untuk kepentingan umat seluruhnya.
Sebagai orang yang taat menjalankan agama Islam, Zia sebenarnya tidak sepenuhnya setuju terhadap pembaharuan yang hanya mencomot ide-ide Barat tanpa sikap kritis. Itulah sebabnya dia lebih melihat kesesuaian antara kepentingan rakyat dengan ide pembaharuan yang datangnya dari Barat. Dalam hal demikian, ia juga tidak sependapat dengan orang yang mengatakan bahwa agama Islam dapat dianggap sebagai penghalang kemajuan.
b.      MIDHAT PASYA
Beberapa langkah pembaharuan itu, seperti memperkecil kekuasaan kaum eksekutif dan memberikan kekuasaan lebih besar kepada kelompok legislatif. Golongan ini juga berusaha menggolkan sistem konstitusi yang sudah ditegakkan dengan memakai istilah terma-terma yang islami, seperti musyawarah untuk perwakilan rakyat, bai’ah untuk kedaulatan rakyat dan syariah untuk konstitusi. Dengan usaha ini sistem pemerintahan Barat lambat laun dapat diterima kelompok ulama dan Syaikh Al-Islami yang sebenarnya banyak menentang ide pembaharuan pada masa sebelumnya.
c.       NAMIK KEMAL
Namik Kemal banyak dipengaruhi oleh pemikiran Ibrahim Sinasih (1826-1871) yang berpendidikan Barat dan banyak mempunyai pandangan modernism. Walaupun begitu ia masih menjunjung tinggi moral Islam dalam ide-ide pembaharuannya.
Menurutnya Turki saat ini mundur karena lemahnya politik dan ekonomi. Untuk bisa memajukan ekonomi dan politik Turki harus ada perubahan dalam sistem pemerintahan. Untuk mewujudkan sistem pemerintahan yang ideal, penguasa harus menjunjung tinggi kepentingan rakyat. Karena kepentingan rakyat menjadi asas negara, maka negara mesti demokratis, yaitu pemerintahan yang didasarkan atas dukungan dan kepentingan. Yang dikehendaki oleh Nanik
Kemal adalah pemerintahan demokrasi dan pemerintahan serupa ini menurut pendapatnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Negara Islam yang dibentuk dan dipimpin oleh empat khalifah besar, sebenarnya mempunyai corak demokrasi. Sistem bai’ah yang terdapat dalam pemerintahan Khilafah pada hakikatnya merupakan kedaulatan rakyat. Melalui bai’ah rakyat menyatakan persetujuan mereka tas pengangkatan khalifah yang baru. Dengan demikian. bai’ah merupakan kontrak sosial dan kontrak yang terjadi antara rakyat dan khalifah itu dapat dibatalkan jika khalifah mengabaikan kewajiban-kewajibannya sebagai Kepala Negara.
E.     TURKI MUDA
Setelah dibubarkannya parlemen dan dihancurkannya gerakan Usmani Muda, maka Sultan Abdul Hamid memerintah dengan kekuasaan yang lebih absolut. Kebebasan berbicara dan menulis tidak ada. Dalam suasana yang demikian timbullah gerakan oposisi terhadap pemerintah yang obsolut Sultan Abdul Hamid sebagaimana halnya di zaman yang lalu dengan Sultan Abdul Aziz. Gerakan oposisi dikalangan perguruan tinggi, mengambil bentuk perkumpulan rahasia, dikalangan cendekiawan dan pemimpin-pemimpinnya lari ke luar negeri dan disana melanjutkan oposisi mereka dan gerakan di kalangan militer menjelma dalam bentuk komite-komite rahasia. Oposisi berbagai kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan nama Turki Muda.
Tokoh-tokoh Turki Muda, antara lain adalah Ahmad Riza (1859-1930), Mehmed Murad (1853-1912) dan Pangeran Sahabuddin (1887-1948).
a.      AHMAD RIZA
Pembaharuan yang dilakukan oleh Ahmad Riza antara lain adalah ingin mengubah pemerintahan yang absolut kepada pemerintahan konstitusional. Karena menurutnya akan menyeleamatkan Kerajaan Usmani dari keruntuhan adalah melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan positif dan bukan dengan teologi atau metafisika. Adanya dan terlaksananya program pendidikan yang baik akan berhajat pada pemerintahan yang konstitusional.
b.      MEHMED MURAD (1853-1912)
Ia berpendapat bahwa bukanlah Islam yang menjadi penyebab mundurnya Kerajaan Usmani, dan bukanlah pula rakyatnya, namun sebab kemunduran ituterletak pada Sultan yang memerintah secara absolut. Oleh karena itu, menurutnya kekuasaan Sultan harus dibatasi. Dalam hal ini dia berpendapat bahwa musyawarah dalam Islam sama dengan konstitusional di dunia Barat.
Ia mengusulkan didirikan satu Badan Pengawas yangtugasnya mengawasi jalannya undang-undang agar tidak dilanggar oleh pemerintah. Disamping itu diadakan pula Dewan syariat agung yang anggotanya tersusun dari wakil-wakil negara islam di Afrika dan Asia dan ketuanya Syekh Al-Islam Kerajaan Usmani.
c.       PANGERAN SAHABUDDIN (1887-1948)
Menurutnya yang pokok adalah perubahan sosial, bukan penggantian Sultan. Masyarakat Turki sebagaimana masyarakat Timur lainnya mempunyai corak kolektif, dan masyarakat kolektif tidak mudah berubah dalam menuju kemajuan. Dalam masyarakat kolektif orang tidak percaya diri sendiri, oleh karena itu ia tergantung pada kelompok atau suku sedangkan masyarakat yang dapat maju menurutnya adalah masyarakat yang tidak banyak bergantung kepada orang lain tetapi sanggup berdiri sendiri dan berusaha sendiri untuk mengubah keadaannya.

3) ISLAM di MASA SEKARANG
A.    JUMLAH PENDUDUK ISLAM di TURKI
Islam adalah agama terbesar di Turki sejak zaman Kesultanan Utsmaniyah menguasai Turki pada tahun 1400-an pemeluk Islam di Turki semakin banyak. Kini sekitar 99,8% penduduk Turki adalah Muslim, Kebanyakan Muslim di Turki adalah Sunni dengan 70-80%, sisanya adalah Alevis dan Syiah dengan 20-30%.[1][2] Ada juga pengikut Dua Belas Imam dengan 3%.
Sekitar 99% penduduknya adalah Muslim walaupun tidak pernah ada kajian mengenai ketepatan nisbah ini. Menurut tinjauan Eurobarometer, umat Islam terdiri dari 94% jumlah penduduk Turki[1]. bagaimanapun, menurut buku fakta CIA World, 99.8% dari penduduk Turki merupakan Muslim.
Kebanyakan umat Islam di Turki adalah Sunah Waljamaah membentuk sekitar 85% dan kedua besar mazhab bukan-Islam adalah Alevi yang bukan Muslim Syiah, mereka membentuk sekitar 20% penduduk Turki sendiri (15 juta).

B.     KOTA-KOTA PUSAT AGAMA ISLAM
Istanbul
Istanbul, yang kata orang sebagai miniatur Turki. Selain sebagai salah satu pusat budaya Islam, Istanbul juga merupakan pintu gerbang negara itu serta salah satu kota tertua di dunia. Pada 1453, Konstantinopel jatuh ke tangan Khalifah Usmaniyah, yang waktu itu kekuasaannya sudah merajalela hingga Anatolia dan Semenanjung Balkan. Dalam suatu perebutan kekuasaan yang sangat dramatik, Sultan Mahmud II berhasil merebut Kota Konstantinopel dengan mudah. Ia lalu mengganti nama kota itu dengan Istanbul, dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat budaya bagi kekhalifahan Turki Usmani.

C.    PENINGGALAN-PENINGGALAN ISLAM
Sedikit contoh peninggalan Islam di Turki:
a.      Masjid Aya Sophia
Namanya Museum Aya Sofia. Sebelum menjadi museum, bangunan ini dulunya adalah masjid. Dan sebelum menjadi masjid, ia adalah gereja yang bernama Haghia Sopia yang dibangun pada masa Kaisar Justinianus (penguasa Bizantium), tahun 558 M. Arsitek Gereja Hagia Sophia ini adalah Anthemios dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.
Usia bangunan ini sudah sangat tua, sekitar lima abad. Bangunan ini merupakan kebanggaan masyarakat Muslim di Istanbul, Turki. Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan para pengunjung. Karenanya, jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap tanpa melihat kemegahan Aya Sofia.
b.      Masjid Al-Fatih
Masjid Fatih dibangun atas perintah Sultan Mehmed Fatih Sang Penakluk from 1463-1470, di situs dari mantan Bizantium Gereja Para Rasul Suci , yang reruntuhan menjabat sebagai tambang untuk memasok bahan bangunan untuk masjid baru.
c.       Benteng Ajyad
Benteng Ajyad merupakan benteng yang dibangun penguasa Turki Usmani di kota Mekkah pada 1775 M. Benteng tersebut dibangun untuk melindungi Ka'bah dan kota Mekkah dari serangan para pendatang. Benteng ini meliputi 23 ribu meter persegi pegunungan Bulbul. Namun benteng tersebut sudah dimusnahkan pada tahun 2002 yang lalu untuk sebuah proyek pembangunan Abraj Al Bait Towers yang terdiri dari apartemen, hotel bintang lima, maupun pusat perbelanjaan.
Pemusnahan Benteng Ajyad yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi umat Muslim diprotes keras oleh pemerintah Turki. Namun pemerintah Saudi Arabia tetap memperbolehkan kelanjutan proyek itu. Selain itu, meskipun benteng Ajyad memiliki nilai historis tetapi benteng tersebut tidak termasuk bangunan-bangunan bersejarah yang dilindungi oleh UNESCO.


BAB III
KESIMPULAN
Jadi, Islam sudah masuk ke daerah Turki mulai abad Hijriyah dan Islam berkembang dengan pesat, bangsa Turki mencapai puncak kemegahan dari tahun 1520-1566 kemudian mendapat gelar orang sakit (The Sick Men) karena bangsa Turki akhirnya juga lumpuh pada abad ke-19.
Dari uraian di atas dapat kami simpulkan bahwa pemabaharuan-pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II merupakan landasan atau dasar bagi pemikiran dan usaha pembaharuan selanjutnya, antara lain : pembaharuan tanzimat, pembaharuan di kerajaan usmani abad ke-19 dan Turki abad ke-20. Dimana tanzimat yang dimaksudkan adalah suatu usaha pembaharuan yang mengatur dan menyusun serta memperbaiki struktur organisasi pemerintahan tetapi tanzimat ini belum berhasil seperti yang diharapkan oleh tokoh-tokoh penting tanzimat, yaitu Mustafa Rasyid Pasya, Mustafa Sami, Mehmed Sadek, Rif’at Pasya dan Ali Pasya.
Kemudian dilanjutkan dengan pembaharuan Usmani Muda, dimana usaha-usaha pembaharuannya adalah untuk mengubah pemerintahan dengan sistem konstitusional tidak dengan kekuasaan absolut setelah dibubarkannya parlemen dan dihancurkannya usmani muda dilanjutkan dengan pembaharuan turki muda.














DAFTAR PUSTAKA
A.Syalabi, 2000, Sejarah dan Kebudayaan Islam III. Jakarta: Al-Husna Zikra
Abu Ayuhbah, M.M (1994). Kitab Hadits Shahih Yang Enam. Jakarta : Litera AntarNusa
Al-Mawardi, Abu Al-Hasan,Tt, Cendikiawan Muslim.[Online]. Tersedia:http://id.wikipedia.org [20 agustus 2009] Amin, Husain Ahmad. 2000. Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya
Ash-Shiddieqy, T.M.H. (1971). Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam. Jakarta : Bulan Bintang.
Ash-Shiddieqy, T.M.H. (1993). Ilmu-Ilmu Alquran. Jakarta : Bulan Bintang.
As-Shobuni, M.A. (1985). At-Tibyan fi 'Ulumil Quran. Bairut : 'Alimul Kitab
El-Saha.M.Ishom ,2002, 55 Tokoh Muslim Terkemuka.Jakarta:Darrul Ilmi
Ishom, M. dan Hadi, Saiful. (2004). Profil Ilmuan Muslim Perintis Ilmu Pengetahuan Modern. Jakara: Fuzan Intan Kreasi.
Kamiluddin, U. (2006). Menyorot Ijtihad Persis. Bandung : Tafakkur.
Masur, Hasan. Khoiruddin,Abdul Wahhab. Addinul Islamy. Gontor Press: Ponorogo.
Mudzakir, A.S. (2004). Studi Ilmu-Ilmu Qur'an. Jakarta : Lintera Antar Nusa
Murtiningsih, W. (2008). Biografi Para Ilmuan Muslim. Yogyakarta: Insan Madani.
Musthofa, S.(1987).The science of islam. [Online]. Tersedia di http://www.ilmuilmuislam.com [20 Agustus 2009]
Osman, Latif. Ringkasan Sejarah Islam. Widjaya Jakarta. 2000: Jakarta
Syafi’I Arkom. (2009). Blogs Ilmuan Muslim. [Online]. Tersedia: http://id.wordpress.com/tag/ilmuwan-muslim/. [ 09 November 2009].
Tim Penyusun Tarikh 'Gontor'. Tarikh Islam 1. Gontor Press. 2004: Ponorogo
Triatmojo. (2006). Sejarah Ibnu Sina. [Online]. Tersedia: http://triatmojo.wordpress.com/2006/10/06/ibnu-sina/. 2009.
www.alquran-indonesia.com. Download: Jumat/2 Oktober 2009
www.wikipedia.org. Download: Jumat/2 Oktober 2009

[1] Yusran Asmuni. PengantarStudi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam. (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada.1998) hal. 11-12
[2] Ibid. hal 14-15
[3] Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. (Jakarta : PT. Bulan Bintang. 2003) hal. 83
[4] Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. (Jakarta : PT. Bulan Bintang. 1996) hal;93
[5] Ibid. hal. 95
[6] Yusran Asmuni. Loc. Cit. hal. 19-21
[7] Ibid. hal.21
[8] Muhammad Al-Bahy. Pemikiran Islam Modern. (Jakarta : Pustaka Panjimas. 1986) hal. 97
[9] Yusran Asmuni. Op. Cit. hal 22
[10] Muhammad Al-Bahy. Loc. Cit. hal 99
[11] Ibid. hal 100
http://sejarah islam/makalah-pmdi-pembaharuan-islam-di-turki.html


0 komentar:

Posting Komentar

Minggu, 29 Juli 2012

Makalah Islam di Turki

Diposting oleh Unknown di 05.43

Kata Pengantar
Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan perkenan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tugas Sejarah Islam mengenai Islam di Negara Turki  ini untuk menjadi bahasan pelajaran bersama bagi semua orang, khususnya mahasiswa Sejarah Universitas Sriwijaya Tahun Akademik 2011/2012.

Lanjut yakk...
Makalah ini disusun untuk menberikan pedoman dan bahan dalam diskusi yang dilakukan mahasiswa. Juga sebagai bahan referensi untuk materi serupa yang sedang dipelajari.
Penyajian makalah ini disampaikan dalam tampilan yang ringkas dan mudah dipahami dengan pokok-pokok permasalahan yang jelas.
Kami berharap makalah ini dapat memberikan bantuan yang berarti dapat proses belajar saudara-saudara sekalian. Kami juga menyadari makalah ini banyak sekali kekurangannya. Oleh karena itu kami memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Inderalaya, April 2012
Penyusun














Daftar Isi                             
1.      Kata Pengantar…………………………………………………………………………….1
2.      Daftar Isi………………………….……………………………………………………….2
3.      BAB I………………………………………………………………………….…...……..3
PENDAHULUAN…………………………………………………………………….….3
1)      Latar Belakang……………………………………………...…………………..…3
2)      Rumusan Masalah……………………………………………………....................3
4.      BAB II………………………………………………………………………………….….4
PEMBAHASAN………………………………………………………………………......4
PERKEMBANGAN ISLAM DI TURKI…………………………………………………4
1)      TURKI PADA AWAL ISLAM……………………………………………………….4
A.     Proses Masuknya Islam ke Turki…………………………………………………4
B.     Perkembangan dan Pemerintahan Islam di Turki…………………………………5
a.       Latar Belakang Pendirian Turki Utsmani…………………………………5
b.      Pertumbuhan Kerajaan Turki Utsmani……….………………………...…6
c.       Kemunduran Kerajaan Turki Utsmani…………………………….…..…11
2)      TUKRI PASCA PEMBARUAN…………………………………………………….12
A.    PEMBARUAN DI TUKRI……………………………………………………...12
B.     SULTAN MAHMUD II…………………………………………………………13
C.     TANZIMAT………………………………………………………………..……15
D.    USMANI MUDA………………………………………………………….……16
E.     TURKI MUDA…………………………………………………………….……17
  3)   ISLAM di MASA SEKARANG…………………………………….......................17
5.      BAB III…………………………………………………………………………….……20
PENUTUP………………………………………………………………………….……20
KESIMPULAN…………………………………………………………..........................20
6.      Daftar Pustaka…………………………………………………………………………....21




BAB I
PENDAHULUAN
1)      Latar Belakang
Pada abad pertengahan Dunia Barat telah maju, ditandai dengan beberapa kemajuan dan penemuan teknologi modern. Islam sudah masuk ke daerah Turki mulai abad Hijriyah dan Islam berkembang dengan pesat , bangsa Turki mencapai puncak kemegahan dari tahun 1520-1566 kemudian mendapat gelar orang sakit (The Sick Men) karena bangsa Turki akhirnya juga lumpuh pada abad ke-19.
Pembaharuan di Turki ini, meliputi empat fase pembaharuan yang dimulai oleh Sultan Mahmud II, yang mengubah madrasah tradisional tanpa pengetahuan umum menjadi madrasah yang berpengetahuan umum. Tanzimat yaitu usaha untuk mengatur dan memperbaiki struktur organisasi pemerintahan sementara Usmani Muda dan Turki Muda ingin mengubah sistem pemerintahan konstitusional bukan dengan kekuasaan absolut.
2)      Rumusan Masalah
A.    Bagaimana kondisi Islam di Turki pada awal masuknya Islam ke Tanah Turki?
B.     Bagaimana peran atau tokoh-tokoh Islam pada masa Turki Ustmani untuk perkembangan Islam itu sendiri?
C.     Pengaruh Islam apa saja yang ada di Turki?
D.    Pembaruan-pembaruan apa saja yang dilakukan pemimpin-pemimpin Turki untuk membangkinkan kembali Turki yang pernah jatuh pada abad ke-19?
E.     Bagaimanakah perkembangan Islam di Turki dari masa ke masa setelah sering mengalami tokoh yang memerintah?








BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN ISLAM DI TURKI
1)TURKI PADA AWAL ISLAM
A. Proses Masuknya Islam ke Turki
Istambul adalah ibukota kerajaan Turki Usmani. Kota ini sebelumnya merupakan ibukota kerajaan Romawi Timur yang bernama Konstantinopel. Sultan Turki Usmani berhasil menaklukkannya tahun 1453 dan menjadikannya sebagai ibukota kerajaan yang baru.
Sebenarnya, jauh sebelum Turki Usmani dibawah Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel, para pemimpin Islam sudah sejak zaman Khulafaur Rasyidin, kemudian khalifah Bani Umayyah dan Khalifah Bani Abbas berusaha ke arah itu. Namun, baru pada masa kerajaan Turki Usmani usaha itu berhasil.
Setelah Muhammad Al-Fatih menjadikan Istambul sebagai ibukota kerajaan Turki Usmani, ia melakukan penataan hal-ihwal orang-orang Kristen Yunani (Romawi). Dalam penataan tersebut ia tetap memberikan kebebasan kepada pihak gereja, seperti yang dilakukan para pendahulunya dan mengikuti agama lain sesuai dengan ajaran agama Islam yang menghormati keyakinan suatu agama. Berkenaan dengan kekuasaan keagamaan orang Kristen Yunani, ia bahkan menyerahkan pelaksanaannya kepada penguasa keagamaan mereka. Hal yang sama juga berlaku bagi penganut agama Yahudi. Setiap agama mempunyai komunitasnya sendiri yang disebut dengan millet. Sultan memberi kebebasan kepada penganut agama Kristen, misalnya, untuk memilih dan menentukan patriarch. Bilamana seorang patriarch sudah terpilih, ia kemudian melantiknya dan memberikan tongkat serta memasukkan cincin kepatriachan kepada patriarch terpilih itu. Itu tidak pernah terjadi pada masa raja-raja Kristen sendiri sebelumnya. Penduduk Istambul memang heterogen dalam bidang agama. Menurut sensus tahun 1477, penduduk Istambul berdasarkan agama adalah sebagai berikut : Muslim 8951 rumah tangga (60%), penganut Kristen Ortodoks (Yunani) 3151 rumah tangga (21,5 %), Yahudi 1647 rumah tangga (11%), dan lain-lain 1054 rumah tangga (7,5%).
Sebagaimana halnya dengan Konstantinopel pada masa kerajaan Romawi Timur, kerajaan Turki Usmani dengan ibukota Istambul itu, juga menjadi sebuah Negara adi daya pada masa jayanya. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Bahkan, Negara-negara Islam di daerah yang lebih jauh juga mengakui kekuasaannya. Sebagai sebuah kerajaan Islam terbesar pada waktu itu, maka raja-rajanya juga memakai gelar khalifah. Istana khalifah terletak di kota ini.
Sejak pertama kali mereka masuk Islam, bangsa Arab sudah menjadi guru mereka dalam bidang agama, ilmu, prinsip-prinsip kemasyarakatan, dan hukum. Huruf Arab dijadikan huruf resmi kerajaan. Kekuasaan tertinggi memang berada di tangan Sultan, tetapi roda pemerintahan dijalankan oleh Shadr Al-a’zam (Perdana Menteri) yang berkedudukan di ibu kota. Jabatan-jabatan penting, termasuk perdana menteri, seringkali justru diserahkan kepada orang-orang asal Eropa dengan syarat menyatakan diri secara formal masuk Islam.
Dalam bidang arsitektur, masjid-masjid yang dibangun disana membuktikan kemajuannya. Masjid memang merupakan suatu ciri dari sebuah kota Islam, tempat kaum muslimin mendapat fasilitas lengkap untuk menjalankan kewajiban agamanya. Gereja Aya Sophia, setelah penaklukan diubah menjadi sebuah mesjid agung yang terpenting di Istambul. Gambar-gambar makhluk hidup yang ada sebelumnya ditutup, mihrab didirikan, dindingnya dihiasi dengan kaligrafi yang indah, dan menara-menara dibangun. Masjid-masjid penting lainnya adalah Masjid Agung Al-Muhammadi atau Masjid Agung Sultan Muhammad Al-Fatih, Masjid Abu Ayyub Al-Anshari (tempat pelantikan para sultan Usmani), Masjid Bayazid dengan gaya Persia, dan Masjid Sulaiman Al-Qanuni.
Disamping masjid, para sultan juga membangun istana-istana dan villa-villa yang megah, sekolah, asrama, rumah sakit, panti asuhan, penginapan, pemandian umum, pusat-pusat tarekat, dan sebagainya. Rumah-rumah dan villa mewah juga dimiliki oleh pedagang-pedagang kaya, istana dan villa biasanya dilengkapi dengan taman dan tembok di sekelilingnya. Jalan-jalan yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lain, terutama dengan ibukota yang dibangun.

B. Perkembangan dan Pemerintahan Islam di Turki
Perkembangan dan pemerintahan Islam di Turki sebenarnya tidak lepas dari peranan kerajaan turki Usmani yang berada dibawah dinasti Utsmaniyyah atau pemerintahan Utsman. Oleh karena itu pada bab ini akan membahas seluk beluk kerajaan turki Usmani yang termasuk pada tiga kerajaan besar Islam serta perkembangannya. Adapaun pemaparannya sebagai berikut :
a. Latar Belakang Pendirian Turki Utsmani
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Qayigh Ughuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina (Tiongkok) yang dipimpin oleh Sulaiman Syah. Mereka meninggalkan tanah tempat kediaman mereka yang asal, berpindah ke Turkistan. Dari Turkistan mereka berpindah-pindah seperti ke Persia dan Irak. Kepindahan mereka disebabkan serangan bangsa Mongol yang telah lama berkuasa di Asia tengah dan Asia Barat di bawah pimpinan rajanya yang masyhur bernama Jengis Khan.
Bangsa Turki berlarut-larut mengembara hingga mereka ke tepi sungai efrat. Ketika menyebrangi sungai Efrat, pemimpin mereka bernama Sulaiman hanyut terbawa deras air sungai Efrat hingga meninggal dunia disebabkan karena banjir banding (1228 M).
Kecelakaan di sungai Efrat membuat suku Qayigh Ughuz yang dipimpin oleh Sulaiman Syah terpecah menjadi dua. Sebagian kembali ke daerah asalnya dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan. Kelompok yang melanjutkan perjalanan di pimpin oleh anaknya Sulaiman Syah yaitu Erthogrol hingga mereka pun sampai di Asia Kecil. Dalam perjalanannya di dekat Negara Angora, mereka menjumpai dua pasukan tentara yang sedang berperang. Dua pasukan yang sedang berperang itu adalah bangsa Mongol dan Turki Saljuk. Rombongan di bawah pimpinan Erthogrol tersebut turut berperang membantu pasukan yang lemah, yaitu Turki Saljuk. Pimpinan Turki Saljuk waktu itu bernama Alaudin Sultan Bani Saljuk. Berkat bantuan itu, Turki Saljuk dapat memenangkan peperangan melawan tentara bangsa Mongol.
Setelah Bani Saljuk memperoleh kemenangan, lalu Alaudin memberikan hadiah sebagai balas jasa kepada pasukan atau rombongan Erthogrol. Hadiah yang diberikan oleh Alaudin adalah suatu daerah di bagian Iskisyhar, dibatas kerajaan Byzantium dekat Brussa. Di daerah itulah bermula tumbuh suburnya kerajaan Turki Usmani.
b. Pertumbuhan Kerajaan Turki Utsmani
1. Perluasan Wilayah
Erthogrol adalah pemimpin Turki Usmani yang telah mendapat suatu daerah di bagian Iskisyhar. Daerah ini mereka jadikan ibukota kerajaan untuk mengembangkan perjuangan umat Islam, khususnya di Turki Usmani.
Setelah Erthogrol meninggal dunia pada tahun 1289 M, kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya bernama Usman. Putra Erthogrol inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun 1290 M-1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alaudin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa.
Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk sehingga Alauddin terbunuh. Kerajaan Saljuk ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah kerajaan Usman dinyatakan berdiri. Pengurus pertamanya adalah Usman yang sering juga disebut Usman I
Setelah Usman I menyatakan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (Raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai kota kerajaan.

2. Kemajuan yang dicapai pada Masa Turki Usmani di Bidang Agama
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Karena itu, ulama mempunyai tempat tersendiri dan berperan besar dalam kerajaan dan masyarakat. Dalam kajian-kajian keagamaan seperti fikih, ilmu kalam, tafsir dan hadits bisa dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu paham ( Madzhab) keagamaan dan menekan madzhab lainnya, seperti yang dilakukan Sultan Abdil al-Hamid II, ia begitu fanatik terhadap aliran Asy'ariyah. Untuk itu ia memerintah Syekh Husein al-Jisri menulis kitab Al-Husnu al-Hamidiyyah untuk melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat lainnya adalah ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya suka menulis dalam bentuk sarah (penjelasan) terhadap karya-karya klasik.

3. Masa Kesultanan
a. Sultan Ustman bin Urtoghal (699-726 H/ 1294-1326 M)
Pada tahun 699 H usman melakukan perlusan kekuasaannya sampai ke Romawi Bizantium setelah ia mengalahkan Alauddin Saljuk. Usman diberi gelar sebagai Padisyah Al-Usman (Raja besar keluarga usman), gelar inilah yang dijuliki sebagi Daulah Usmaniyyah. Usman berusaha memperkuat tentara dan memajukan negrinya. kepada raja-raja kecil dibuat suatu peraturan untuk memilih salah satu dari tiga hal, yaitu:
1) Masuk Islam
2) Membayar Jizyah; atau
3) Berperang
Penerapan sistem ini membawa hasil yang menggembirakan, yaitu banyak raja-raja kecil yang tunduk kepada Usman.
b. Sultan Urkhan bin Utsman (726-761 H/ 1326-1359 M)
Sultan Urkhan adalah putera Utsman I. sebelum urkhan ditetapkan menjadi raja, ia telah banyak membantu perjuangan ayahnya. Dia telah menjadikan Brousse sebagai ibu kota kerajaannya.
Pada masa pemerintahannya, dia berhsil mengalahkan dan menguasai sejumlah kota di selat Dardanil. Tentara baru yang dibentuk oleh Urkhan I diberi nama Inkisyaiah. Pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan dan pakaian seragam. Di zaman inilah pertama kali dipergunakan senjata meriam.          
c. Sultan Murad I bin Urkhan (761-791 H/ 1359-1389 M)
Pengganti sultan Urkhan adalah Sultan Murad I. selain memantapkan keamanan di dalam negrinya, sultan juga meneruskan perjuangan dan menaklukkan bebrapa daerah ke benua Eropa. Ia menaklukkan Adrianopel, yang kemudian dijadikan sebagai ibukota kerajaan yang baru serta membentuk pasukan berkuda (Kaveleri). Perjuangannya terus dilanjutkan dengan menaklukkan Macedonia, Shopia ibukota Bulgaria, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani.
Karena banyaknya kota-kota yang ditaklukkan oleh Murad I, pada waktu itu bangsa Eropa mulai cemas. Akhirnya raja-raja Kristen Balkan meminta bantuan Paus Urban II untuk mengusir kaum muslimin dari daratan Eropa. Maka peperangan antara pasukan Islam dan Kristen Eropa pada tahun 765 H (1362 M). Peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Murad I, sehingga Balkan jatuh ke tangan umat Islam. Selanjutnya pasukan Murad I merayap terus menguasai Eropa Timur seperti Somakov, Sopia Monatsir, dan Saloniki.
d. Sultan Bayazid I bin Murad ( 791-805 H/ 1389-1403 M)
Bayazid adalah putra Murad I. Ia meneruskan perjuangan ayahnya dengan memperluas wilayahnya seperti Eiden, Sharukan, dan Mutasya di Asia Kecil dan Negri-negri bekas kekuasaan Bani saluki. Bayazid sangat besar pengaruhnya, sehingga mencemaskan Paus. Kemudian Paus Bonifacius mengadakan penyerangan terhadap pasukan Bayazid, dan peperangan inilah yang merupakan cikal bakal terjadinya Perang Salib.
Tentara Salib ketika itu terdiri dari berbagai bangsa, namun dapat dilumpuhkan oleh pasukan Bayazid. Namun pada peperangan berikutnya ketika melawan Timur Lenk di Ankara, Bayazid dapat ditaklukkan, sehingga mengalami kekalahan dan ketika itu Bayazid bersama putranya Musa tertawan dan wafat dalam tahanan Timur Lenk pada tahun 1403 M.
Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani, sehingga penguasa-penguasa Saljuk di Asia Kecil satu persatu melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Hal ini berlangsung sampai pengganti Bayazid muncul.
e. Sultan Muhammad I bin Bayazid (816-824 H/ 1403-1421 M)
 Kekalahan Bayazid membawa akibat buruk terhadap penguasa-penguasa Islam yang semula berada di bawah kekuasaan Turki Usmani, sebab satu sama lain berebutan, seperti wilayah Serbia, dan Bulgeria melepaskan diri dari Turki Usmani. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I putra Bayazid dapat mengatasinya. Sultan Muhammad I berusaha keras menyatukan kembali negaranya yang telah bercerai berai itu kepada keadaan semula.
Berkat usahanya yang tidak mengenal lelah, Sultan Muhammad I dapat mengangkat citra Turki Usmani sehingga dapat bangkit kembali, yaitu dengan menyusun pemerintahan, memperkuat tentara dan memperbaiki kehidupan masyarakat. Akan tetapi saat rakyat sedang m,engharapkan kepemimpinannya yang penuh kebijaksaan itu, pada tahun 824 H (1421 M) Sultan Muhammad I meninggal.
f. Sultan Murad II bin Muhammad ( 824-855 H/ 1421-1451 M)
Cita-citanya adalah melanjutkan usaha perjuangan Muhammad I. Perjuangan yang dilaksanakannya adalah untuk menguasai kembali daerah-daerah yang terlepas dari kerajaan Turki Usmani sebelumnya. Daerah pertama yang dikuasainya adalah Asia Kecil, Salonika Albania, Falokh, dan Hongaria.
Setelah bertambahnya beberapa daerah yang dapat dikuasai tentara Islam, Paus Egenius VI kembali menyerukan Perang Salib. Tentara Sultan Murad II menderita kekalahan dalam perang salib itu. Akan tetapi dengan bantuan putranya yang bernama Muhammad, perjuangan Murad II dapat dilanjutkan kenbali yang pada akhirnya Murad II kembali berjaya dan keadaan menjadi normal kembali sampai akhir kekuasaan diserahkan kepada putranya bernama Sultan Muhammad Al-Fatih.
g. Sultan Muhammad Al-Fatih (855-886 H/ 1451-1481 M)
Setelah Sultan Murad II meninggal dunia, pemerintahan kerajaan Turki Usmani dipimpin oleh putranya Muhammad II atau Muhammad Al-Fatih. Ia diberi gelar Al-fatih karena dapat menaklukkan Konstantinopel. Muhammad Al-Fatih berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapat menaklukkan Konstantinopel sebagai ibukota Bizantium. Konstantinopel adalah kota yang sangat penting dan belum pernah dikuasai raja-raja Islam sebelumnya.
Seperti halnya raja-raja dinasti Turki Usmani sebelumnya, Muhammad Al-Fatih dianggap sebagi pembuka pintu bagi perubahan dan perkembangan Islam yang dipimpin Muhammad.Tiga alasan Muhammad menaklukkan Konstantinopel, yaitu:
a.       Dorongan iman kepada Allah SWT, dan semangat perjuangan berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan ajaran Islam.
b.      Kota Konstantinopel sebagai pusat kemegahan bangsa Romawi.
c.       Negrinya sangat indah dan letaknya strategis untuk dijadikan pusat kerajaan atau perjuangan.
Usaha mula-mula umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan cara mendirikan benteng besar dipinggir Bosporus yang berhadapan dengan benteng yang didirikan Bayazid. Benteng Bosporus ini dikenal dengan nama Rumli Haisar (Benteng Rum).
Benteng yang didirikan umat Islam pada zaman Muhammad Al-Fatih itu dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, dilakukan pengepungan selama 9 bulan. Akhirnya kota Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam ( 29 Mei 1453 M) dan Kaitsar Bizantium tewas bersama tentara Romawi Timur. Setelah memasuki Konstantinopel disana terdapat sebuah gereja Aya Sofia yang kemudian dijadikan mesjid bagi umat Islam.
Setelah kota Konstantinopel dapat ditaklukkan, akhirnya kota itupun dijadikan sebagai ibukota kerajaan Turki Usmani dan namanya diganti menjadi Istanbul. Jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan umat Islam, berturut-turut pula dapat dikuasai negri sekitarnya seperti Servia, Athena, Mora, Bosnia, dan Italia. Setelah pemerintahan Sultan Muhammad, berturut-turut kerajaan Islam dipimpin oleh beberapa Sultan, yaitu:
(1). Sultan Bayazid II (1481-1512 M) (2). Sultan Salim I (918-926 H/ 1512-1520 M) (3). Sultan Sulaiman (926-974 H/ 1520-1566 M) (4). Sultan Salim II (974-1171 H/ 1566-1573 M) (5). Sultan Murad III ( 1573-1596 M)
Setelah pemerintahan Sultan Murad III, dilanjutkan oleh 20 orang Sultan Turki Usmani sampai berdirinya Republik Islam Turki. Akan tetapi kekuasaan sultan-sultan tersebut tidak sebesar kerajaan-kerajaan sultan-sultan sebelumnya. Para sultan itu lebih suka bersenang-senang., sehingga melupakan kepentingan perjuangan umat Islam. Akibatnya, dinasti turki Usmani dapat diserang oleh tentara Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Rusia. Sehingga kekuasaan Turki Usmani semakin lemah dan berkurang karena beberapa negri kekuasaannya memisahkan diri,diantaranya adalah:
1.      Rumania melepaskan diri dari Turki Usmani pada bulan Maret 1877 M.
2.      Inggris diizinkan menduduki Siprus bulan April 1878 M.
3.      Bezarabia, Karus, Ardhan, dan Bathum dikuasai Rusia.
4.      Katur kemudian menjadi daerah kekuasaan Persia.

c. Kemunduran Kerajaan Turki Utsmani
Kemunduran dan kehancuran kerajaan Turki Usmani berawal sejak wafatnya Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1566 M). Sementara pengganti-penggantinya seperti Salim II (1566-1573 M), Sultan Murad III (1574-1595 M), Sultan Muhammad III (1595-1603 M), Sultan Ahmad I (1603-1617 M), Mustafa I (1617-1618 M), dan seterusnya ternyata kurang mampu mempertahankan kejayaan yang pernah dicapai kerajaan Turki Usmani pada masa-masa sebelumnya.
Faktor yang menyebabkan kemunduran kerajaan Turki Usmani adalah sebagai berikut :
1.      Karena amat luasnya kekuasaan Turki Usmani, administrasi pemerintahannya amat rumit dan komplek. Sementara dilain pihak memang pengaturannya tidak ditunjang dengan sumber daya yang berkualitas, malahan keinginannya terus memperluas daerahnya dengan peperangan terus menerus sehingga banyak mengorbankan tenaga dan waktu bukan dipakai untuk membangun negara.
2.      Beragamnya penduduk, baik ditinjau dari suku, budaya, bahkan perbedaan agama menyebabkan pengaturannya pun beragam pula.
3.      Karena lemahnya para penguasa sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni akibat dari kepemimpinan para sultan yang lemah sehingga membuat Negara hancur dan melemah.
4.      Maraknya budaya 'pungli' dikalangan para pejabat yang ingin naik jabatan-jabatan penting, sehingga pudarlah moral para penguasa Turki.
5.      Akibat pemberontakan tentara Jenissari yang semula pendukung kekuatan Turki Usmani, sekarang menjadi terbalik menyerang Turki Usmani.
6.      Merosotnya perekonomian karena banyaknya peperangan.
7.      Akibat terhentinya kegiatan ilmu pengetahuan.

2)TUKRI PASCA PEMBARUAN
A.    PEMBARUAN DI TUKRI
Tahun 1037 Turki dapat menguasai kekhalifahan Abassiyah, akan tetapi akhirnya lumpuh oleh bangsa Mongol, kecuali bangsa Turki yang dipimpin oleh Ertughril yang selanjutnya menjelma menjadi Turki Usmani yang puncak kemegahannya dari tahun 1520-1566 dibawah pemerintahan Sulaiman I, namun akhirnya juga lumpuh pada abad ke-19 dan mendapat sebutan orang sakit (The Sick Men).
Meskipun Turki mendapat gelar (sebutan) The Sick Men, tetapi sebenarnya berkat ketekunan para penbaharu dan para tokoh-tokoh negara itu dapatlah bangkit kembali dengan mengadakan beberapa fase modernisasi :
a. Usaha Rasyid Pasya (1839), yaitu sentralisasi pemerintahan dan modernisasi angkatan bersenjata.
b. Usaha dari Fuad, Namik, Ali Pasya dan Midat Pasya (1861-1876) terutama bidang pendidikan, Bank Nasional, hukum dan Perundang-undangan.
 c. Usaha Turki Muda (1896-1918) yang berusaha dan bertujuan :
1. Reorganisasi negara secara modern
2. Nasionalisme Turki
3. Kesatuan bangsa, negara dan bahasa.
d. Usaha Kemal Pasya :
1. Ke dalam ialah menetapkan Undang-Undang Dasar (1942) pelajaran membaca dan menulis latin, keharusan nama keluarga, perkawinan, emansipasi wanita dan rencana industri besar-besaran.
2. Ke luar, ialah perjanjian nonagressi dengan Irak, Iran, Afghanistan, dan lain-lain dalam perdamaian.[2]

B.     SULTAN MAHMUD II
Sultan-sultan sebelumnya menganggap diri mereka tinggi dan tidak pantas bergaul dengan rakyat. Oleh karena itu, mereka selalu mengasingkan diri dan meyerakan soal mengurus rakyat kepada bawahan-bawahan. Timbullah anggapan mereka bukan manusia biasa dan pembesar-pembesar Negara pun tidak berani duduk ketika menghadap Sultan. Tradisi aristokrasi ini dilanggar oleh Mahmud II. Ia mengambil sikap demokratis dan selalu muncul di muka umum untuk berbicara atau menggunting pita pada upacara-upacara resmi.
Sultan Mahmud II juga mengadakan perubahan dalam organisasi pemerintahan Kerajaan Usmani. Menurut tradisi Kerajaan Usmani dikepalai oleh seorang Sultan yang mempunyai kekuasaan duniawi dan kekuasaan rohani. Sebagai penguasa duniawi ia memakai titel Sultan dan sebagai kepala rohani umat Islam ia memakai gelar Khalifah. Dengan demikian, raja Usmani mempunyai dua bentuk kekuasaan, kekuasaan memerintah Negara dan kekuasaan menyiarkan dan membela Islam.
 Perubahan penting yang diadakan oleh Sultan Mahmud II dan yang kemudian mempunyai pengaruh besar pada perkembangan pembaharuan di Kerajaan Usmani ialah perubahan dalam bidang pendidikan. Seperti halnya di Dunia Islam lain di zaman itu, Madrasah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan umum yang ada di Kerajaan Usmani. Di Madrasah hanya diajarkan agama sedangkan pengetahuan umum tidak diajarkan. Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan Madrasah tradisional tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad ke-19.
Selain itu, Sultan Mahmud II juga mendirikan Sekolah Militer, Sekolah Teknik, Sekolah Kedokteran dan Sekolah Pembedahan. Lulusan Madrasah banyak meneruskan pelajaran di sekolah-sekolah yang baru didirikannya. Selain dari mendirikan Sekolah Sultan Mahmud II juga mengirim siswa-siswa ke Eropa yang setelah kembali ke tanah air juga mempunyai pengaruh dalam penyebaran ide-ide baru di Kerajaan Usmani.
Pembaharuanyang diadakan Sultan Mahmud II diataslah yang menjadi dasar bagi pemikiran dan usaha pembaharuan selanjutnya di Kerajaan Usmani abad ke-19 dan Turki abad ke-20.
C.    TANZIMAT
Pembaharuan diadakan pada masa tanzimat merupakan sebagai lanjutan dari usaha-usaha yang dijalankan oleh Sultan Mahmud II yang banyak mengadakan pembaharuan peraturan dan perundang-undangan. Secara terminologi tanzimat adalah suatu usaha pembaharuan yang mengatur dan menyusu serta memperbaiki struktur organisasi pemerintahan, sosial, ekonomi dan kebudayaan, antara tahun 1839-1871 M.
Tokoh-tokoh penting tanzimat antara lain : Mustafa Rasyid Pasya, Mustafa Sami, Mehmed Sadek Rif’at Pasya dan Ali Pasya seperti yang dijelaskan berikut ini :
a.      MUSTAFA RASYID PASYA (1880-1858)
Usaha pembaharuannya yang terpenting ialah sentralisasi pemerintahan dan modernisasi angkatan bersenjata pada tahun 1839.
b.      MUSTAFA SAMI PASYA (WAFAT 1855)
Menurut pendapat Mustafa Sami Pasya, kemajuan bangsa Eropa terletak pada keunggulan mereka dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab lain dilihatnya karena toleransi beragama dan kemampuan orang Eropa melepaskan diri dari ikatan-ikatan agama, disamping itu pula pendidikan universal bagi pria dan wanita sehingga umumnya orang Eropa pandai membaca dan menulis.
c.       MEHMED SADIK RIF’AT PASYA
Pokok-pokok pemikiran dan pembaharuannya ialah Sultan dan pembesar-pembesar negara harus tunduk pada undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya. Negara harus tunduk pada hukum(negara hukum), kodifikasi hukum, administrasi, pengaturan hak dan kewajiban rakyat, reorganisasi, angkatan bersenjata, pendidikan dan keterampilan serta dibangunnya Bank Islam Usmani pada tahun 1840.
Ide-ide yang dicetuskan Sadik Rif’at pada zaman itu merupakan hal baru karena orang tidak mengenal peraturan, hukum, hak dan kebebasan. Pada waktu itu petani lebih banyak menjadi budak bagi tuan tanah dan rakyat budak bagi Sultan. Pemikiran ini sejalan dengan pemikiran Mustafa Rasyid Pasya yang pada waktu itu mempunyai kedudukan sebagai Menteri Luar Negeri.
d.      ALI PASYA (1815-1871)
Usaha pembaharuannya antara lain : tentang pengakuan semua aliran spiritual pada masa itu, jaminan melaksanakan ibadahnya masing-masing, larangan memfitnah karena agama, suku dan bahasa, jaminan kesempatan belajar, sistem peradilan dan lain-lainnya.
Pembaharuan yang dilaksanakan oleh tokoh-tokoh pembaharuan di zaman tanzimat tidaklah seluruhnya mendapat dukungan bahkan mendapat kritikan baik dari dalam atau di luar Kerajaan Usmani karena gerakan-gerakan tanzimat untuk mewujudkan pembaharuan didasari oleh pemikiran liberalisme Barat dan meninggalkan pola dasar syariat agama, hal ini salah satu sebab yang utama sehingga gerakan tannzimat mengalami kegagalan dalam usaha pembaharuannya.

D.    USMANI MUDA
Sebagaimana dikatakan bahwa pembaharuan yang diusahakan dalam tanzimat belumlah mendapat hasil sebagaimana yang diharapkan. Kegagalan oleh tanzimat dalam mengganti konstitusi yang absolut merupakan cambuk untuk usaha-usaha selanjutnya. Untuk mengubah kekuasaan yang absolut maka timbullah usaha atau gerakan dari kaum cendikiawan melanjutkan usaha-usaha tanzimat. Gerakan ini dikenal dengan Young Ottoman-Yeni Usmanilar (Gerakan Usmani Muda) yang didirikan pada tahun 1865.
Beberapa tokoh dari gerakan itu membawa angin baru tentang demokrasi dan konstitusional pemerintahan yang menjunjung tinggi kekuasaan rakyat bukan kekuasaan absolut. Diantara tokoh itu ialah : Zia Pasya, Nanik Kemal, dan Midhat Pasya.
a.      ZIA PASYA
Usaha-usaha pembaharuannya antara lain, kerajaan Usmani menurut pendapatnya harus dengan sistem pemerintahan konstitusional, tidak dengan kekuasaan absolut. Menurutnya negara Eropa maju disebabkan tidak terdapat lagi pemerintahan yang absolut, semuanya dengan sistem pemerintahan konstitusional. Dalam sistem pemerintahan konstitusional harus ada Dewan Perwakilan Rakyat. Kemudian Zia mengemukakan hadis ”Perbedaan pendapat dikalangan umatku merupakan rahmat dari Tuhan”, sebagai alasan untuk perlu adanya Dewan Perwakilan Rakyat, dimana perbedaan pendapat itu ditampung dan kritik terhadap pemerintah dikemukakan untuk kepentingan umat seluruhnya.
Sebagai orang yang taat menjalankan agama Islam, Zia sebenarnya tidak sepenuhnya setuju terhadap pembaharuan yang hanya mencomot ide-ide Barat tanpa sikap kritis. Itulah sebabnya dia lebih melihat kesesuaian antara kepentingan rakyat dengan ide pembaharuan yang datangnya dari Barat. Dalam hal demikian, ia juga tidak sependapat dengan orang yang mengatakan bahwa agama Islam dapat dianggap sebagai penghalang kemajuan.
b.      MIDHAT PASYA
Beberapa langkah pembaharuan itu, seperti memperkecil kekuasaan kaum eksekutif dan memberikan kekuasaan lebih besar kepada kelompok legislatif. Golongan ini juga berusaha menggolkan sistem konstitusi yang sudah ditegakkan dengan memakai istilah terma-terma yang islami, seperti musyawarah untuk perwakilan rakyat, bai’ah untuk kedaulatan rakyat dan syariah untuk konstitusi. Dengan usaha ini sistem pemerintahan Barat lambat laun dapat diterima kelompok ulama dan Syaikh Al-Islami yang sebenarnya banyak menentang ide pembaharuan pada masa sebelumnya.
c.       NAMIK KEMAL
Namik Kemal banyak dipengaruhi oleh pemikiran Ibrahim Sinasih (1826-1871) yang berpendidikan Barat dan banyak mempunyai pandangan modernism. Walaupun begitu ia masih menjunjung tinggi moral Islam dalam ide-ide pembaharuannya.
Menurutnya Turki saat ini mundur karena lemahnya politik dan ekonomi. Untuk bisa memajukan ekonomi dan politik Turki harus ada perubahan dalam sistem pemerintahan. Untuk mewujudkan sistem pemerintahan yang ideal, penguasa harus menjunjung tinggi kepentingan rakyat. Karena kepentingan rakyat menjadi asas negara, maka negara mesti demokratis, yaitu pemerintahan yang didasarkan atas dukungan dan kepentingan. Yang dikehendaki oleh Nanik
Kemal adalah pemerintahan demokrasi dan pemerintahan serupa ini menurut pendapatnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Negara Islam yang dibentuk dan dipimpin oleh empat khalifah besar, sebenarnya mempunyai corak demokrasi. Sistem bai’ah yang terdapat dalam pemerintahan Khilafah pada hakikatnya merupakan kedaulatan rakyat. Melalui bai’ah rakyat menyatakan persetujuan mereka tas pengangkatan khalifah yang baru. Dengan demikian. bai’ah merupakan kontrak sosial dan kontrak yang terjadi antara rakyat dan khalifah itu dapat dibatalkan jika khalifah mengabaikan kewajiban-kewajibannya sebagai Kepala Negara.
E.     TURKI MUDA
Setelah dibubarkannya parlemen dan dihancurkannya gerakan Usmani Muda, maka Sultan Abdul Hamid memerintah dengan kekuasaan yang lebih absolut. Kebebasan berbicara dan menulis tidak ada. Dalam suasana yang demikian timbullah gerakan oposisi terhadap pemerintah yang obsolut Sultan Abdul Hamid sebagaimana halnya di zaman yang lalu dengan Sultan Abdul Aziz. Gerakan oposisi dikalangan perguruan tinggi, mengambil bentuk perkumpulan rahasia, dikalangan cendekiawan dan pemimpin-pemimpinnya lari ke luar negeri dan disana melanjutkan oposisi mereka dan gerakan di kalangan militer menjelma dalam bentuk komite-komite rahasia. Oposisi berbagai kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan nama Turki Muda.
Tokoh-tokoh Turki Muda, antara lain adalah Ahmad Riza (1859-1930), Mehmed Murad (1853-1912) dan Pangeran Sahabuddin (1887-1948).
a.      AHMAD RIZA
Pembaharuan yang dilakukan oleh Ahmad Riza antara lain adalah ingin mengubah pemerintahan yang absolut kepada pemerintahan konstitusional. Karena menurutnya akan menyeleamatkan Kerajaan Usmani dari keruntuhan adalah melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan positif dan bukan dengan teologi atau metafisika. Adanya dan terlaksananya program pendidikan yang baik akan berhajat pada pemerintahan yang konstitusional.
b.      MEHMED MURAD (1853-1912)
Ia berpendapat bahwa bukanlah Islam yang menjadi penyebab mundurnya Kerajaan Usmani, dan bukanlah pula rakyatnya, namun sebab kemunduran ituterletak pada Sultan yang memerintah secara absolut. Oleh karena itu, menurutnya kekuasaan Sultan harus dibatasi. Dalam hal ini dia berpendapat bahwa musyawarah dalam Islam sama dengan konstitusional di dunia Barat.
Ia mengusulkan didirikan satu Badan Pengawas yangtugasnya mengawasi jalannya undang-undang agar tidak dilanggar oleh pemerintah. Disamping itu diadakan pula Dewan syariat agung yang anggotanya tersusun dari wakil-wakil negara islam di Afrika dan Asia dan ketuanya Syekh Al-Islam Kerajaan Usmani.
c.       PANGERAN SAHABUDDIN (1887-1948)
Menurutnya yang pokok adalah perubahan sosial, bukan penggantian Sultan. Masyarakat Turki sebagaimana masyarakat Timur lainnya mempunyai corak kolektif, dan masyarakat kolektif tidak mudah berubah dalam menuju kemajuan. Dalam masyarakat kolektif orang tidak percaya diri sendiri, oleh karena itu ia tergantung pada kelompok atau suku sedangkan masyarakat yang dapat maju menurutnya adalah masyarakat yang tidak banyak bergantung kepada orang lain tetapi sanggup berdiri sendiri dan berusaha sendiri untuk mengubah keadaannya.

3) ISLAM di MASA SEKARANG
A.    JUMLAH PENDUDUK ISLAM di TURKI
Islam adalah agama terbesar di Turki sejak zaman Kesultanan Utsmaniyah menguasai Turki pada tahun 1400-an pemeluk Islam di Turki semakin banyak. Kini sekitar 99,8% penduduk Turki adalah Muslim, Kebanyakan Muslim di Turki adalah Sunni dengan 70-80%, sisanya adalah Alevis dan Syiah dengan 20-30%.[1][2] Ada juga pengikut Dua Belas Imam dengan 3%.
Sekitar 99% penduduknya adalah Muslim walaupun tidak pernah ada kajian mengenai ketepatan nisbah ini. Menurut tinjauan Eurobarometer, umat Islam terdiri dari 94% jumlah penduduk Turki[1]. bagaimanapun, menurut buku fakta CIA World, 99.8% dari penduduk Turki merupakan Muslim.
Kebanyakan umat Islam di Turki adalah Sunah Waljamaah membentuk sekitar 85% dan kedua besar mazhab bukan-Islam adalah Alevi yang bukan Muslim Syiah, mereka membentuk sekitar 20% penduduk Turki sendiri (15 juta).

B.     KOTA-KOTA PUSAT AGAMA ISLAM
Istanbul
Istanbul, yang kata orang sebagai miniatur Turki. Selain sebagai salah satu pusat budaya Islam, Istanbul juga merupakan pintu gerbang negara itu serta salah satu kota tertua di dunia. Pada 1453, Konstantinopel jatuh ke tangan Khalifah Usmaniyah, yang waktu itu kekuasaannya sudah merajalela hingga Anatolia dan Semenanjung Balkan. Dalam suatu perebutan kekuasaan yang sangat dramatik, Sultan Mahmud II berhasil merebut Kota Konstantinopel dengan mudah. Ia lalu mengganti nama kota itu dengan Istanbul, dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat budaya bagi kekhalifahan Turki Usmani.

C.    PENINGGALAN-PENINGGALAN ISLAM
Sedikit contoh peninggalan Islam di Turki:
a.      Masjid Aya Sophia
Namanya Museum Aya Sofia. Sebelum menjadi museum, bangunan ini dulunya adalah masjid. Dan sebelum menjadi masjid, ia adalah gereja yang bernama Haghia Sopia yang dibangun pada masa Kaisar Justinianus (penguasa Bizantium), tahun 558 M. Arsitek Gereja Hagia Sophia ini adalah Anthemios dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.
Usia bangunan ini sudah sangat tua, sekitar lima abad. Bangunan ini merupakan kebanggaan masyarakat Muslim di Istanbul, Turki. Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan para pengunjung. Karenanya, jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap tanpa melihat kemegahan Aya Sofia.
b.      Masjid Al-Fatih
Masjid Fatih dibangun atas perintah Sultan Mehmed Fatih Sang Penakluk from 1463-1470, di situs dari mantan Bizantium Gereja Para Rasul Suci , yang reruntuhan menjabat sebagai tambang untuk memasok bahan bangunan untuk masjid baru.
c.       Benteng Ajyad
Benteng Ajyad merupakan benteng yang dibangun penguasa Turki Usmani di kota Mekkah pada 1775 M. Benteng tersebut dibangun untuk melindungi Ka'bah dan kota Mekkah dari serangan para pendatang. Benteng ini meliputi 23 ribu meter persegi pegunungan Bulbul. Namun benteng tersebut sudah dimusnahkan pada tahun 2002 yang lalu untuk sebuah proyek pembangunan Abraj Al Bait Towers yang terdiri dari apartemen, hotel bintang lima, maupun pusat perbelanjaan.
Pemusnahan Benteng Ajyad yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi umat Muslim diprotes keras oleh pemerintah Turki. Namun pemerintah Saudi Arabia tetap memperbolehkan kelanjutan proyek itu. Selain itu, meskipun benteng Ajyad memiliki nilai historis tetapi benteng tersebut tidak termasuk bangunan-bangunan bersejarah yang dilindungi oleh UNESCO.


BAB III
KESIMPULAN
Jadi, Islam sudah masuk ke daerah Turki mulai abad Hijriyah dan Islam berkembang dengan pesat, bangsa Turki mencapai puncak kemegahan dari tahun 1520-1566 kemudian mendapat gelar orang sakit (The Sick Men) karena bangsa Turki akhirnya juga lumpuh pada abad ke-19.
Dari uraian di atas dapat kami simpulkan bahwa pemabaharuan-pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II merupakan landasan atau dasar bagi pemikiran dan usaha pembaharuan selanjutnya, antara lain : pembaharuan tanzimat, pembaharuan di kerajaan usmani abad ke-19 dan Turki abad ke-20. Dimana tanzimat yang dimaksudkan adalah suatu usaha pembaharuan yang mengatur dan menyusun serta memperbaiki struktur organisasi pemerintahan tetapi tanzimat ini belum berhasil seperti yang diharapkan oleh tokoh-tokoh penting tanzimat, yaitu Mustafa Rasyid Pasya, Mustafa Sami, Mehmed Sadek, Rif’at Pasya dan Ali Pasya.
Kemudian dilanjutkan dengan pembaharuan Usmani Muda, dimana usaha-usaha pembaharuannya adalah untuk mengubah pemerintahan dengan sistem konstitusional tidak dengan kekuasaan absolut setelah dibubarkannya parlemen dan dihancurkannya usmani muda dilanjutkan dengan pembaharuan turki muda.














DAFTAR PUSTAKA
A.Syalabi, 2000, Sejarah dan Kebudayaan Islam III. Jakarta: Al-Husna Zikra
Abu Ayuhbah, M.M (1994). Kitab Hadits Shahih Yang Enam. Jakarta : Litera AntarNusa
Al-Mawardi, Abu Al-Hasan,Tt, Cendikiawan Muslim.[Online]. Tersedia:http://id.wikipedia.org [20 agustus 2009] Amin, Husain Ahmad. 2000. Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya
Ash-Shiddieqy, T.M.H. (1971). Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam. Jakarta : Bulan Bintang.
Ash-Shiddieqy, T.M.H. (1993). Ilmu-Ilmu Alquran. Jakarta : Bulan Bintang.
As-Shobuni, M.A. (1985). At-Tibyan fi 'Ulumil Quran. Bairut : 'Alimul Kitab
El-Saha.M.Ishom ,2002, 55 Tokoh Muslim Terkemuka.Jakarta:Darrul Ilmi
Ishom, M. dan Hadi, Saiful. (2004). Profil Ilmuan Muslim Perintis Ilmu Pengetahuan Modern. Jakara: Fuzan Intan Kreasi.
Kamiluddin, U. (2006). Menyorot Ijtihad Persis. Bandung : Tafakkur.
Masur, Hasan. Khoiruddin,Abdul Wahhab. Addinul Islamy. Gontor Press: Ponorogo.
Mudzakir, A.S. (2004). Studi Ilmu-Ilmu Qur'an. Jakarta : Lintera Antar Nusa
Murtiningsih, W. (2008). Biografi Para Ilmuan Muslim. Yogyakarta: Insan Madani.
Musthofa, S.(1987).The science of islam. [Online]. Tersedia di http://www.ilmuilmuislam.com [20 Agustus 2009]
Osman, Latif. Ringkasan Sejarah Islam. Widjaya Jakarta. 2000: Jakarta
Syafi’I Arkom. (2009). Blogs Ilmuan Muslim. [Online]. Tersedia: http://id.wordpress.com/tag/ilmuwan-muslim/. [ 09 November 2009].
Tim Penyusun Tarikh 'Gontor'. Tarikh Islam 1. Gontor Press. 2004: Ponorogo
Triatmojo. (2006). Sejarah Ibnu Sina. [Online]. Tersedia: http://triatmojo.wordpress.com/2006/10/06/ibnu-sina/. 2009.
www.alquran-indonesia.com. Download: Jumat/2 Oktober 2009
www.wikipedia.org. Download: Jumat/2 Oktober 2009

[1] Yusran Asmuni. PengantarStudi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam. (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada.1998) hal. 11-12
[2] Ibid. hal 14-15
[3] Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. (Jakarta : PT. Bulan Bintang. 2003) hal. 83
[4] Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. (Jakarta : PT. Bulan Bintang. 1996) hal;93
[5] Ibid. hal. 95
[6] Yusran Asmuni. Loc. Cit. hal. 19-21
[7] Ibid. hal.21
[8] Muhammad Al-Bahy. Pemikiran Islam Modern. (Jakarta : Pustaka Panjimas. 1986) hal. 97
[9] Yusran Asmuni. Op. Cit. hal 22
[10] Muhammad Al-Bahy. Loc. Cit. hal 99
[11] Ibid. hal 100
http://sejarah islam/makalah-pmdi-pembaharuan-islam-di-turki.html


0 komentar on "Makalah Islam di Turki"

Posting Komentar

 

Little World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea